Glamping menjadi tren di berbagai belahan bumi. Termasuk di Indonesia. Tumbuhnya lokasi glamping menunjukkan pertumbuhan tersebut. Pertumbuhan berdasarkan permintaan (demand) dari masyarakat yang menginginkan akomodasi berbeda.

Di Indonesia setidaknya terdapat tiga kawasan yang pertumbuhan glampingnya tinggi. Antara lain di Bandung (Pangalengan, Ciwidey dan Cikole), Bogor (Puncak, Puncak 2, Jonggol), dan Bali (Danau Batur dan Danau Beratan). Walaupun di berbagai kota lain juga terus bertumbuh.

Glamping adalah sebuah fasilitas akomodasi pengindapan dengan berbasis pada kebiasaan camping. Namun dikemas dalam format yang mewah setara dengan akomodasi pada hotel.

Secara spesifik berdasarkan pengamatan www.ayoglamping.com, glamping ditandai denga 3 faktor, yakni;

  • Area di alam bebas (pantai, gunung, hutan, pinggir sungai, dll) dengan bangunan berupa tenda, bubble, atau kabin atau lodge.
  • Masing-masing bangunan berdiri secara sendiri-sendiri (soliter) karena bertujuan untuk menawarkan sisi privasi kepada tamu.
  • Kawasan glamping didukung oleh fasilitas setara hotel. Misalnya tempat tidur, kamar mandi, fasilitas umum seperti resto/kantin/kafe, Lokasi berkumpul, juga akses seperti Wi-Fi. Ada pula yang menambahkan peralatan seperti AC dan televisi.

Beberapa lokasi glamping terakses dengan berbagai sarana dan wahana, baik alami maupun buatan. Bahkan menyediakan pula fasilitas untuk menarik pengunjung, misalnya playground, trek menuju destinasi alam, dan sejenisnya.

Bagi masyarakat glamping merupakan aktivitas yang memberikan pengalaman baru. Glamping lebih terasa aspek staycation-nya daripada tinggal di hotel. Juga tidak membutuhkan kecakapan khusus dan peralatan tertentu untuk menikmati suasana seperti camping.

Walapun beberapa glamping di Indonesia bahkan lebih mewah daripada sebuah resort atau hotel berbintang lima. Tarif per malamnya bisa menembus lebih dari 20 juta. Beberapa lagi memperkuat tema dengan bentuk-bentuk penginapan yang khas.(*)