Literatur tentang glamping di Indonesia memang masih amat minim. Namun sebaliknya pertumbuhan subindustri pariwisata glamping justru meningkat pesat. Seiring dengan pola kebiasaan baru yang muncul akibat pandemi Covid-19, berwisata dengan pola soliter, bubbling, staycation, berada di alam terbuka, kian jadi pilihan dan mulai banyak penggemarnya.

Dari riset yang dilakukan oleh www.ayoglamping.com tentang peta pertumbuhan glamping di Indonesia tercatat ada dua provinsi yang amat pesat. Yaitu Jawa Barat dan Bali. Sementara perlahan kawasan yang memiliki keindahan alam dan berbau petualangan seperti DIY dan Jawa Timur juga terus bertumbuh. Di luar Jawa, Sumatera Barat dan Lombok kian mudah ditemui tempat peristirahatan bernama glamping.

Namun ada insiatif yang dilakukan oleh Ni Kadek Yuni Utami (Oktober 2020) berupa hasil penelitian memakai metodologi survei. Ia, yang kala itu mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di Bali mencoba mencari tahu glamping seperti apa yang diinginkan oleh masyarakat.

Hasilnya dapat dianalisa sebagai berikut;

Karakteristik Glamping

Sebagian besar responden (76.1%) berpendapat bahwa sebuah akomodasi glamping diharapkan memiliki lingkungan alam yang natural dan pemandangan yang dijaga dengan baik. Sebanyak 60.2% dari para responden setuju bahwa bentuk arsitektur dan desain interior yang menarik akan menjadi keunggulan sebuah akomodasi glamping.

Data diatas juga menunjukkan bahwa 59.1% dari para responden menginginkan akomodasi glamping yang memiliki fasilitas penunjang lengkap, sebanyak 54.5% menginginkan kebersihan yang maksimal layaknya dalam sebuah hotel, dan 36.4% dari para responden menginginkan sebuah akomodasi glamping yang memiliki servis yang menunjang seperti servis makanan, laundry, dll.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa akomodasi yang menarik adalah glamping yang memiliki potensi alam dan pemandangan yang baik, juga memiliki desain arsitektur dan interior yang unik, servis menjadi faktor penunjang dalam akomodasi glamping.

Bentuk Glamping

Hasil kuesioner memperlihatkan bahwa sebagian dari responden (52.9 %) memilih jenis glamping dengan bentuk tenda berfasilitas lengkap, diikuti oleh ketertarikan terhadap glamping dengan tipe rumah pohon atau tree house sebanyak 51.7%, dan menyusul mobil van dengan fasilitas yang lengkap sebanyak 33.3%.

Sisanya masing-masing 17% adalah jenis akomodasi cabin, 23% bungalow dan akomodasi dengan bentukan yang unik seperti bubble dan kotak kaca sebanyak 17%.

Tipologi Tenda

Sebagian besar responden (55.7%) memilih tipologi arsitektur segitiga yang memiliki karakteristik seperti tenda, diikuti oleh 35.7 % dari para responden memilih bentuk pentagon seperti rumah mini. Uniknya, hanya 8,6% dari responden yang memilih tipologi bulat, dan tidak ada satupun dari responden yang memilih bentuk geometri yang tidak beraturan.

Kelengkapan Akomodasi

Sebanyak 69% menyetujui bahwa adanya tempat barbeque dan api unggun adalah hal yang wajib dalam sebuah unit glamping. Disusul dengan

jendela yang besar untuk melihat pemandangan sebanyak 66.7 % dan sebanyak 39.1% responden mewajibkan adanya kamar mandi di dalam unit glamping.

Adanya teras yang luas diminati oleh 29.9% responden dan area untuk memasak dipilih oleh 32.2%. Kebutuhan akan ruang dalam yang luas hanya dipilih oleh 20.7% .

Berdasarkan data ini, dapat ditarik hipotesis bahwa program ruang dalam unit glamping harus disertai dengan kenyamanan aktivitas luar seperti barbeque dan api unggun. Kegiatan ini dianggap sebagai kegiatan yang identik dengan berkemah.

Fasilitas Pendukung Kenyamanan

Sebagain besar responden (67.8%) setuju bahwa dalam unit glamping diharapkan memiliki fasilitas tidur yang baik dan nyaman, seperti adanya kasur, selimut dan bantal. Sebanyak 53.3% responden berpendapat bahwa adanya meja dan kursi untuk makan dan minum menjadi furniture yang diperlukan dalam akomodasi glamping.

Karpet sebagai penutup lantai hanya dipilih oleh 21.1% responden saja, diikuti oleh ornamen dan dekorasi lainnya sebanyak 22.2%. Lemari hanya dipilih oleh 13.3% responden dikarenakan mereka melakukan berkemah dalam waktu yang tidak lama.

Fasilitas Pendukung Tambahan

Kebutuhan akan listrik dan stop kontak yang memadai adalah fasilitas tambahan yang diinginkan oleh lebih dari sebagian besar reponden (87.6%). Sedangkan WIFI menjadi fasilitas tambahan yang diminati nomor dua sebanyak 46.1% diikuti oleh keinginan akan fasilitas tambahan seperti spot foto yang menarik namun tetap sesuai dengan konteks alam.

Sedangkan fasilitas seperti Bathtub diminati sebanyak 18% dan fasilitas air conditioner sebanyak 11.2%. Data ini mengungkapkan bahwa aktivitas outdoor pun tidak lepas dari keberadaan teknologi. Fasilitas listrik dan stop kontak yang memadai dipergunakan untuk menghidupkan gadget, alat musik, speaker, atau memasak. (*)